Monday, 30 January 2017

kedai kopi

Laki-laki itu menghisap rokoknya. Pipinya yang tirus menjadi semakin tirus. Ia menghembuskan asapnya perlahan. Matanya tertutup, mengisyaratkan kepuasan yang ia dapat dari sebuah hisapan rokok. Hanya sebatang, dan ia dapat mengendalikan dunianya.

Perempuan itu duduk diam. Matanya menatap lurus, namun tidak melihat apapun. Gelas dihadapannya yang diletakkan oleh seorang pelayan di atas meja tiga puluh menit yang lalu belum ia sentuh. Ia haus, namun tidak ingin minum. Otaknya berpikir, namun tidak memikirkan apapun. Ia menghembuskan napas, namun tidak mengeluarkan apa yang ia inginkan.

Laki-laki itu mengangkat gelasnya, dan meminum cairan hitam pekat didalamnya. Seluruh bagian luar dari laki-laki itu hitam. Rambut hitamnya yang agak panjang menggantung di atas bahunya. Kaus hitam dan celana panjang denim hitam serasi dengan sepatu hitam yang ia kenakan. Ia meletakkan gelas itu kembali, lalu menghisap rokoknya. Semua gerakannya dilakukan secara sunyi dan perlahan, tidak meninggalkan jejak. Ia memperhatikan asap yang ia hembuskan, terbang lalu hilang perlahan.

Perempuan itu duduk diam. Terlalu diam hingga tidak ada yang tahu akan presensinya, selain pelayan yang mencatat pesanannya dan mengantar minumannya. Raganya seperti tidak bertuan. Pikirannya melayang. Jiwanya pergi. Jauh entah kemana. Ia hitam, karena itu dibiarkan jiwanya pergi. Sesuatu mendorongnya untuk menatap laki-laki yang duduk di meja seberangnya. Perempuan itu tersenyum, miris.

Laki-laki itu kemudian pergi setelah mengosongkan isi gelasnya. Sedangkan, perempuan itu masih diam di tempatnya menatap meja yang telah kosong. Setelah menghabiskan beberapa teguk cairan dari dalam gelasnya, ia pergi.

Setiap kedai kopi selalu mempertemukan orang baru. Hari itu sebuah kedai kopi mempertemukan seorang perempuan dan seorang laki-laki, walau hanya satu pihak saja. Hari itu sebuah kedai kopi menyadarkan seseorang bahwa ia dapat mengendalikan dunia walau dengan hal kecil.

No comments:

Post a Comment