Tuesday, 27 December 2016

Dua puluh satu

Dua puluh satu tahun lalu,
seorang putera lahir.
Jangan tanya aku apa dia tampan atau tidak, langsat atau tidak, langsing atau tidak.
Ia indah,
tak beda dengan milikNya yang lain.
Tentu, ia tetap unik.
Bukankah begitu Ia membuat kami semua?
Tak beda namun unik.

Dua puluh satu tahun usianya;
tidak tua pun tidak muda.
Kata orang banyak,
"Baru masuk dewasa.
Baru tau rasanya tuak dan minuman lainnya.
Baru tau rasanya hidup."
Ah, tahu apa orang banyak tentang hidup?
Tak ada yang tahu,
cuma Dia.

Baru dua puluh satu tahun lamanya
ia mengecap rasa Sri.
Baru dua puluh satu tahun lamanya ia merasakan Waruna.
Baru dua puluh satu tahun lamanya ia di Tera.

Semuanya baru.
Baru semuanya.
Sayang,
tak lama,
uripnya.

Pergilah,
sampaikan salam kami kepada Yang Maha.

"Jika harus mati, maka matilah."

Selasa, 27 Desember 2016. 13: 30 | Kemarin, Senin, 26 Desember 2016, FIB UI kehilangan salah seorang puteranya. Saya tidak kenal dengan dia, begitupun dia tidak kenal dengan saya. Namun, hari itu saya merasakan kesedihan yang sama dengan orang-orang terkasihnya, entah kenapa.
Selamat jalan, Jendral Acong.

Sunday, 11 December 2016

Sept 28th, 2016


Sastra
Buku
Pesta
Ria
Cinta
Kamu
Fana
Rabu, 28 September 2016. Gedung X FIB UI Ruang 4102. 08:33 | Sebuah coretan iseng ketika sedang mengikuti kelas Pengantar Kesusastraan atau bahasa kerennya, Introduction to Literature.