Monday, 15 January 2018

Monday, 30 January 2017

kedai kopi

Laki-laki itu menghisap rokoknya. Pipinya yang tirus menjadi semakin tirus. Ia menghembuskan asapnya perlahan. Matanya tertutup, mengisyaratkan kepuasan yang ia dapat dari sebuah hisapan rokok. Hanya sebatang, dan ia dapat mengendalikan dunianya.

Perempuan itu duduk diam. Matanya menatap lurus, namun tidak melihat apapun. Gelas dihadapannya yang diletakkan oleh seorang pelayan di atas meja tiga puluh menit yang lalu belum ia sentuh. Ia haus, namun tidak ingin minum. Otaknya berpikir, namun tidak memikirkan apapun. Ia menghembuskan napas, namun tidak mengeluarkan apa yang ia inginkan.

Laki-laki itu mengangkat gelasnya, dan meminum cairan hitam pekat didalamnya. Seluruh bagian luar dari laki-laki itu hitam. Rambut hitamnya yang agak panjang menggantung di atas bahunya. Kaus hitam dan celana panjang denim hitam serasi dengan sepatu hitam yang ia kenakan. Ia meletakkan gelas itu kembali, lalu menghisap rokoknya. Semua gerakannya dilakukan secara sunyi dan perlahan, tidak meninggalkan jejak. Ia memperhatikan asap yang ia hembuskan, terbang lalu hilang perlahan.

Perempuan itu duduk diam. Terlalu diam hingga tidak ada yang tahu akan presensinya, selain pelayan yang mencatat pesanannya dan mengantar minumannya. Raganya seperti tidak bertuan. Pikirannya melayang. Jiwanya pergi. Jauh entah kemana. Ia hitam, karena itu dibiarkan jiwanya pergi. Sesuatu mendorongnya untuk menatap laki-laki yang duduk di meja seberangnya. Perempuan itu tersenyum, miris.

Laki-laki itu kemudian pergi setelah mengosongkan isi gelasnya. Sedangkan, perempuan itu masih diam di tempatnya menatap meja yang telah kosong. Setelah menghabiskan beberapa teguk cairan dari dalam gelasnya, ia pergi.

Setiap kedai kopi selalu mempertemukan orang baru. Hari itu sebuah kedai kopi mempertemukan seorang perempuan dan seorang laki-laki, walau hanya satu pihak saja. Hari itu sebuah kedai kopi menyadarkan seseorang bahwa ia dapat mengendalikan dunia walau dengan hal kecil.

Tuesday, 27 December 2016

Dua puluh satu

Dua puluh satu tahun lalu,
seorang putera lahir.
Jangan tanya aku apa dia tampan atau tidak, langsat atau tidak, langsing atau tidak.
Ia indah,
tak beda dengan milikNya yang lain.
Tentu, ia tetap unik.
Bukankah begitu Ia membuat kami semua?
Tak beda namun unik.

Dua puluh satu tahun usianya;
tidak tua pun tidak muda.
Kata orang banyak,
"Baru masuk dewasa.
Baru tau rasanya tuak dan minuman lainnya.
Baru tau rasanya hidup."
Ah, tahu apa orang banyak tentang hidup?
Tak ada yang tahu,
cuma Dia.

Baru dua puluh satu tahun lamanya
ia mengecap rasa Sri.
Baru dua puluh satu tahun lamanya ia merasakan Waruna.
Baru dua puluh satu tahun lamanya ia di Tera.

Semuanya baru.
Baru semuanya.
Sayang,
tak lama,
uripnya.

Pergilah,
sampaikan salam kami kepada Yang Maha.

"Jika harus mati, maka matilah."

Selasa, 27 Desember 2016. 13: 30 | Kemarin, Senin, 26 Desember 2016, FIB UI kehilangan salah seorang puteranya. Saya tidak kenal dengan dia, begitupun dia tidak kenal dengan saya. Namun, hari itu saya merasakan kesedihan yang sama dengan orang-orang terkasihnya, entah kenapa.
Selamat jalan, Jendral Acong.

Sunday, 11 December 2016

Sept 28th, 2016


Sastra
Buku
Pesta
Ria
Cinta
Kamu
Fana
Rabu, 28 September 2016. Gedung X FIB UI Ruang 4102. 08:33 | Sebuah coretan iseng ketika sedang mengikuti kelas Pengantar Kesusastraan atau bahasa kerennya, Introduction to Literature.

Wednesday, 5 October 2016

Sept 21st, 2016

Bayangmu
ku cumbu
dengan madu
kelabu
lalu biru
membeku.

Rabu, 21 September 2016. Gedung X FIB UI Ruang 4102

Tuesday, 14 June 2016

May 28th, 2016

Mesin itu berhenti berderu,
poros itu tak lagi berputar,
bunga itu layu,
anjing itu akhirnya mati.

Semua mati,
Apa itu abadi?

Kau dan aku;
Kita,
Itu abadi.

Setidaknya, tolong biarkan aku berpikir demikian.

Sabtu, 28 Mei 2016. 05:38

Monday, 23 November 2015

mati rasa

Jijik,
mereka menatapku jijik.
Hina,
aku menatap dia hina.
Apa salahku?

Mimpi;
Cuma sepotong kata.
Hancur,
tak berbekas.
Bahkan debu punya bekas.

Sampah,
dia sampah.
Orang pun tabu menatapnya.
Pahit,
aku hidup dengan sampah.

Tikus datang lagi.
Entah sudah berapa banyaknya.
Tak lama,
mereka parasit.
Menumpang pada sampah.

Birahi.
Atas nama birahi tikus datang.
Semakin banyak,
semakin bau,
semakin panas.

Pergi.
Bapak pergi tak pulang.
Dipanggil oleh Tuannya.
Sedang aku dengan sampah.
Dia jahat,
munafik;
Pembohong!

Hijau;
Atapku hijau.
Sampah membuatnya hijau.
Sayur,
aku butuh sayur.

Aku.
Sekarat.
Sampah membuatku sesak.
Pilu kemudian mati,
layu kemudian gugur.


Jum'at, 23 Oktober 2015. 12:03. Ruang 1 Kolese Gonzaga | Dibuat dalam rangka mengikuti ulangan Bahasa Indonesia membuat puisi beraliran Determinisme dengan syarat 8 bait yang berisi 5 barisan pada setiap baitnya.